Kamis, 30 Oktober 2008

Masa FPI bentrok dengan polisi pasca pembacaan vonis yang menghukum Habib Rizieq 1 tahun 6 bulan.

Kayaknya ini bukan kali pertama masa FPI berlaku anarki. Sepanjang sidang berlangsung dipastikan selalu ada keributan dan makian dari mereka.

Banyak alasan (klise) yang dapat mereka kemukakan untuk membenarkan "aksi tidak simpatik" mereka. Tetapi hanya ada satu alasan mengapa mereka seperti itu. Sebagai Muslim mereka masih belum bisa mengendalikan hawa nafsu.

Celakanya mereka tak menyadarinya, atau menyadari tetapi tak mau mengakuinya!

Rabu, 29 Oktober 2008

Ribuan santri Ponpes Salafiyah Safiiyah Situbondo terus blokir jalan pantura menuntut Bupati ditahan atas dugaan korupsi/penyalahgunaan dana APBD.

Sebuah aksi wajar karena mereka berpendapat keadilan hukum belum ditegakkan atas Bupati mereka yang diduga korupsi.

Tetapi menjadi tidak wajar karena aksi blokir jalan tersebut merugikan pihak lain, karena jalan tersebut merupakan salah satu urat-nadi perekonomian Jatim.

Bagi seorang santri, panduan utama dalam bertindak, bukan hanya tujuannya yang harus benar, tapi juga caranya dan tidak bersifat merusak atau merugikan orang/pihak lain!

Aulia Pohan akhirnya ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus aliran dana BI yang merugikan negara 100 milyar.

Sebuah terobosan positif untuk menepis anggapan beberapa kalangan yang menganggap KPK melakukan TEBANG PILIH dalam usahanya memberantas korupsi. Mereka tinggal menunjukkan kepada publik, keseriusan dan profesionalsme dalam menuntaskan kasus ini.

Bagi Presiden Yudhoyono tentu ini sesuatu yang berat karena melibatkan besan beliu. Namun bisa menjadi poin positif jika beliau, benar-benar menyerahkan kasus ini kepada kekuasaan hukum.

Selasa, 28 Oktober 2008

Sultan Hamengkubuwono X akhirnya memenuhi kehendak Masyarakat Jogja untuk maju ke PILPRES 2009 mendatang!

Melihat dinamika politik akhir-akhir ini, kecil kemungkinannya ada "PARPOL" mau mendukung beliau, kecuali sebagai CAWAPRES. Berkendaraan PARPOL baru, itu seperti numpang mobil yang lagi dirakit. Belum tentu bisa jalan saat diperlukan!

Yang paling realistis adalah maju ke PILPRES sebagai CAPRES INDEPENDENT.

Masalahnya, mampukah Kanjeng Sultan menggalang dukungan independent dari rakyat di luar "Kesultanan Yogyakarta"?